Minggu, 24 Januari 2010

Beternak Cucakrawa

Cucakrawa, Piyiknya Laku Rp3,5 juta


Selama ini masyarakat cuma hobi memelihara cucakrawa. Padahal, jika ditangkarkan, burung ocehan ini akan memberi pemasukan hingga puluhan juta rupiah per bulan. Seperti yang dilakukan para anggota APC. Russanti Lubis
Cucakrawa ((Latin: pycnonotus zeylanicus, red.). Burung berwarna abu-abu ini (dulu) dapat dijumpai di hampir semua pulau di Indonesia, terutama Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Meski, kegemaran memelihara unggas ini untuk pertama kalinya timbul di Jawa, terutama di kalangan raja-rajanya. Selain itu, masyarakat Jawa pulalah yang menamainya cucakrawa (Jawa: cucak = burung dan rawa = rawa, red.), mengingat habitat aslinya di rawa-rawa. Sayang, burung penyanyi ini kini hanya dapat dijumpai di hutan-hutan di Kalimantan Utara (wilayah perbatasan Indonesia−Malaysia, red.). Itu pun dalam jumlah yang sudah sangat sedikit.
Berkaitan dengan itulah, Heru Sutarman dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Asosiasi Penangkar Cucak Rawa (APCR) melakukan penangkaran, yang arahnya ke konservasi, di samping bisnis. “Sebab, bila dibandingkan dengan burung-burung lain, cucakrawa tidak cuma memiliki bulu-bulu yang indah dan suara yang merdu, tetapi juga memunyai nilai ekonomi yang tinggi, mengingat populasinya semakin langka,” ujar Heru APCR, begitu kalangan dekatnya menjulukinya.
Memang, sampai sekarang belum ada data akurat yang menerangkan berapa jumlah burung yang di Sumatra dinamai beru-beru ini. Tapi, dilihat dari market-nya, seperti yang terlihat di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur, yang merupakan pasar burung terbesar se-Asia Tenggara, tidak setiap kios menyediakan atau menjual cucakrawa. “Mungkin hanya sekitar lima atau enam kios dari puluhan kios yang ada, yang menjual cucakrawa. Itu pun hanya beberapa ekor,” kata mantan supervisor pada sebuah bank asing itu.
Di pasar, ia melanjutkan, burung yang diperjualbelikan secara legal ini dijual dengan harga Rp3 juta/ekor, baik jantan maupun betina. “Inilah satu lagi kelebihan cucakrawa yaitu jantan dan betina mengeluarkan bunyi atau suara. Sehingga, kita tidak akan merugi melakukan penangkaran,” ujar Heru yang memulai penangkaran ini pada tahun 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
I just wanna share what I know to you all....

Pengikut